Gejala Kanker Serviks Mirip Keputihan Biasa

Kanker serviks adalah kanker yang terjadi pada leher rahim. Penyakit ini tidak jarang terlambat dideteksi karena tidak sedikit wanita tidak mengenali gejalanya. Untung Endang Suryani (52), seorang penyintas kanker serviks, tidak pernah menduga menderita kanker. Ia merasa tubuhnya sehat dan masih aktif bekerja sebagai agen penjualan properti.

Suatu saat di mula tahun 2017 ia merasakan keputihan yang dianggapnya normal sebab tidak berbau. “Saya pikir tersebut keputihan biasa. Ketika tersebut usia saya telah 50 tahun, jadi dikira keputihan tersebut tanda inginkan menopause. Kebetulan pun sudah berpisah dengan suami 15 tahun,” ujar perempuan yang lebih akrab disapa Endang ini.

Setelah menstruasi, sejumlah hari lantas ia kembali merasakan keputihan tidak berhenti. Saya lalu dianjurkan minum jamu, tapi telah dua bulan teratur minum keputihannya tidak berhenti,” katanya ketika didatangi di area Menteng, Jakarta.

Berbagai jenis obat herbal keputihan juga dicobanya, namun tetap saja fenomena keputihannya tidak hilang. Kondisi fisiknya juga menurun dan Endang tampak pucat. Hasil pengecekan dokter mengindikasikan kadar Hb darahnya paling rendah. Dokter mengasumsikan ada bisa jadi kanker serviks dan ia juga harus dibiopsi. “Waktu dibilang kanker serviks, saya langsung terkenang almarhum Jupe (Julia Perez).

Ketika tersebut saya merasa panik, merasa sudah tentu akan meninggal,” ujarnya. Dokter mengejar seperempat serviksnya telah tertutupi kanker dan penyakitnya telah masuk stadium 2B. Keputihan terus menerus memang menjadi salah satu fenomena kanker serviks.

Gejala beda yang sangat sering ditemui ialah keluar darah di luar masa menstruasi, terutama saat sedang bersangkutan seksual. Perdarahan Endang mengatakan, ketika tersebut ia paling stres sampai-sampai terus merasakan perdarahan. Dokter lalu menyimpulkan untuk mengerjakan radiasi guna menghentikan perdarahannya. “Saya diradiasi 5 kali dan menantikan dua bulan guna radiasi berikutnya.

Pada masa tunggu tersebut saya diminta kemoterapi agar tidak kecurian dengan penyebaran kanker,” paparnya. Sejak mula pengobatan, Endang telah mendapatkan transufi sejumlah 59 kantong darah. Ia pun berusaha menghadapi rasa nyeri pada organ serviksnya dan pun efek samping pengobatan.

Pada masa tersebut pula ia mulai berkenalan dengan komunitas Cancer Information and Support Center (CISC). “Tadinya saya merasa sendirian, namun begitu masuk komunitas ini baru tahu tidak sedikit yang survive meski kankernya lebih parah. Wawasan mulai tersingkap dan mulai motivasi menjalani pengobatan,” katanya. Endang menyebut, komunitas pasien laksana CISC paling bermanfaat untuk pasien karena dapat saling menguatkan, berbagi, dan menjadi penyemangat guna berobat. Hampir dua tahun menjadi penyintas, Endang terus mengawal pola hidupnya. “Yang penting santap yang sehat, perbanyak buah dan sayur, dan tidak boleh stres,” katanya berbagi kiatnya sebagai penyintas.

Permasalahan baru kanker serviks di Indonesia menjangkau 32.469 permasalahan atau 17,2 persen dari total kanker yang diidap wanita di Indonesia. Angka kematiannya menjangkau 18.279 masing-masing tahun atau 50 wanita per hari.

Angka tersebut meningkat nyaris dua kali lipat dikomparasikan tahun 2016 dengan 26 wanita meninggal masing-masing hari. Penyakit ini sebenarnya dapat dicegah dengan vaksinasi. Angka perlindungannya menjangkau 100 persen.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *